Selamat datang di blog zainal masri-Kumpulan makalah PQ (Pendidikan Alquran)semoga bermanfaat...AMIIN..

Kamis, 27 September 2012

AHKAMUL MAD




TUGAS TERSRTUKTUR
MATERI PENDIDIKAN AL-QURAN

TENTANG

AHKAMUL MAD


Oleh

ZAINAL MASRI dkk



Dosen :

Dra. Fadriati, M. Ag
H. Fanhayus, M. Pd



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM  JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
BATUSANGKAR
2011




AHKAMUL MAD

A.    PENDAHULUAN
Islam merupakan agama yang segala hukumnya bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Kitab Al-Qur’an merupakan kitab suci sekaligus pedoman hidup umat islam diseluruh dunia. Dalam al-Qur’an telah diatur seluruh persoalan hidup manusia, bahkan al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang sangat indah, karna itu sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita mengetahui hokum bacaan dalam membaca al-Qur’an. Dalam pembahasan berikut ini pemakalah akan membahas tentang ahkamul mad yaitu hokum-hukum yang berkenaan dengan panjang bacaan dalam membaca al-Qur’an.

B.     PEMBAHASAN
  1. Mad Thobi’I dan Mad Far’I (Mad Iwadh, Mad Badal dan Mad Shilah Qhosirah)
Mad secara bahasa berarti panjang atau lanjut. Sedangkan menurut definisi ahli tajwid, mad adalah memanjangkan suara bacaan menurut aturan-aturannya yang tertentu dalam membaca al-Qur’an.
Huruf-huruf yang digunakan untuk mad itu ada tiga yaitu:
a.       Alif mati, sebelumnya berbaris diatas (berharkat Fathah).
b.      Yaa mati, sebelumnya berbaris dibawah (berharkat Kasrah).
c.       Waw mati, sebelumnya berbaris didepan (berharkat Dhommah).
Secara garis besar mad itu dibagi dua, yaitu:
a.       Mad Ashli atau Mad Thaobi’i
Yaitu  mad (panjang bacaan) dengan adanya salah satu huruf mad yang tersebut diatas, yang tidak diiringi oleh hamzah, oleh huruf yang bertasydid atau oleh huruf yang mati. Maka ukuran panjangnya ialah satu alif atau dua harakat. Dinamakan dia dengan mad Ashli atau mad Thobi’I, karena dialah asal dari perkembangan mad Far’I dan sesuai dengan pembawaan thobi’inya ukuran panjangnya tidak lebih dan tidak kurang dari satu alif atau dua harakat.[1]
Contohnya:نوحيها, تاب, جامع     
b.      Mad Far’i
Yaitu mad (panjang bacaan) yang bertambah daripada ukuran mad asli dengan sebab disambut oleh hamzah atau sukun.
Berikut ini adalah bentuk-bentuk mad Far’I yang panjangnya satu alif:
1)      Mad Iwadh
Iwadh artinya ganti tanwin. Hokum bacaan disebut Mad Iwadh adalah bila ada Fahtatain (baris dua diatas) pada huruf akhir kata yang diwaqofkan atau disebut mad pengganti tanwin sehingga tanwin tidak berbunyi lagi.
Contohnya: جيرا, غفورا, موئلا, رحيما     
2)      Mad Badal
Badal artinya perubahan. Hokum bacaan disebut mad badal yaitu apabila ada hamzah bertemu dengan mad yang berasal dari hamzah sukun, kemudian hamzah ini diubah atau diganti dengan alif, waw, atau yaa.
Contohnya:اوتي, ايمانا, اوتمن            
3)      Mad Shilah Qosirah
Shilah artinya hubungan sedangkan Qosiroh artinya pendek. Hokum bacaan disebut mad Shilah Qosiroh yaitu apabila ada Ha’ kata ganti orang/ benda ketiga(ه) berada sesudah huruf yang berharkah.[2]
Contohnya:
Surat Al-Qori’ah ayat 9                                                    
Surat Al-Qadr ayat 1                                 

  1. Mad Far’I panjangnya satu sampai tiga alif (Mad Wajib Muttasil, Jaiz Munfasil, Shilah Thawilah dan mad ‘aridh lisukun)
a.       Mad Wajib Muttasil
Wajib artinya harus, muttasil artinya bersambung. Hokum bacaan disebut mad wajib muttasil adalah apabila ada mad Thobi’I bertemu dengan hamzah dalam satu suku kata, yang tak mungkin dipisah, karma apbila dipisah maka ia tidak akan memiliki makna.
Cara membacanya wajib dipanjangkan sampai dua setengah Alif atau lima harkat atau dua setengah kali panjang mad Thobi’i.

Contohnya:
(surat At-Thoriq ayat 1)                                
(surat an-Nashr ayat 1)                   
b.      Mad Jaiz Munfasil
Jaiz artinya boleh, munfassil artinya terpisah. Hokum bacaan disebut Mad Jaiz Munfassil yaitu apabila mad Thobi’I berhadapan dengan hamzah di lain perkataan, dimana apabila apabila terjadi pemisahan antara suku kata tersebut kata masih memilki makna.
Contohnya:
(surat al-Kafirun ayat 3)                
(surat Al-Lahabayat 2)                 
c.       Mad Shilah Thawilah
Artinya mad Shilat yang panjang. Masanya ialah apabila sesudah Ha’ kata ganti disambut oleh hamzah yang berbaris hidup. Maka cara membacanya boleh dipanjangkan satu Alif (2 harakat), 2 Alif (4 harakat) atau 2 ½ Alif (5 harakat).
Contohnya:عنده إلا, ما له إذا تردئ, من علمه إلا  
d.      Mad ‘Aridh Lissukun
‘Aridh artinya tiba-tiba ada, sukun artinya mati. Yaitu berlakunya ketika wakaf (menghentikan-bacaan) pada huruf diakhir suku-kata (kalimat), yang mana sebelum huruf tersebut ada salah satu dari pada huruf Mad ashli (Alif atau Waw mati  sebelmnya baris didepan).[3]
Cara membacanya ada tiga;
1)      Thul (panjang)             : 3 Alif (6harakat), ini merupakan yang lebih utama.
2)      Tawassuth (sedang)    : 2 Alif (4harakat)
3)      Qashar (pendek)          : 1 Alif (2 harakat)
Contohnya:خالدون, نستعين, مسلمون, الرحيم      

  1. Mad Far’I Panjangnya tiga alif (Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi, Mad Lazim Mukallaf Kalimi, Mutsaqqal Harfi, Mukaffah Harfi dan Mad Farqi)
a.       Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi
Lazim artinya pasti, mutsaqqal artinya diberatkan. Kalimi berasal dari kata kalimah artinya kata. Hokum bacaan disebut mad lazim mutsaqqal kalimi adalah apabila mad Thobi’I berhadapan dengan huruf yang bertasdid didalam satu perkataan.
Membacanya harus dipanjangkan lebih dahulu baru ditasydidkan, dan panjangnya sampai 6 harakat atau 3 alif.
Contohnya:ولاالضالين, حاج, دابه   
b.      Mad Lazim Mukkalaf Kalimi
Mukallaf artinya diringankan. Hokum bacaan disebut mad ini apabila mad Thobi’I bertemu dengan huruf yang berharaqah sukun tidak diakhir perkataan. Membacanya dipanjangkan sampai tiga Alif atau enam harakat.
Contohnya:الان, ءالئن وقدكنتم     

c.       Mad Mukaffah Harfi
Hokum bacaan disebut mad jenis ini ialah apabila huruf-huruf diawal surat terdiri dari salah satu atau lebih dari huruf-huruf : ط ي ها ر ح
Membacanya harus dipanjangkan satu Alif atau dua harakat.
Contohnya:   الر, يس, طه        
d.      Mad Musaqqah Harfi
Hokum bacaan disebut mad jenis ini ialah apabila permulaan surat berupa salah satu atau lebih dari huruf-huruf :ن  ق ص  ع س  ل ك م
Membacanya harus dipanjangkan tiga Alif atau 6 harakat.[4]
Contohnya:ق,  يس,   ن         .
e.       Mad Farqi
Mad farqi artinya adalah beda. Sedangkan menurut istilah adalah mad untuk membedakan antara susunan kalimat bertanya dan kalimat berita, maka hokum bacaannya yaitu harus dipanjangkan menjadi 3 alif atau 6 harakat.
Supaya lebih jelas lagi bahwa mad farqi yaitu hamzah istifham (hamzah untuk bertanya) bertemu dengan hamzah Al (ال)maka hamzah Al menjadi mad (panjang).[5]
Contoh;
Surat Yunus ayat 59
 
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?"
Surat An-Naml ayat 59
       
Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"

C.    PENUTUP
  1. Kesimpulan
Mad adalah ilmu mengenai ukuran panjang suatu huruf dalam membaca al-Qur’an. Mad ada dua jenis yaitu:
    1. Mad Ashli / Mad Thobi’i
    2. Mad Far’I, dimana mad Far’I ini juga banyak macamnya diantaranya:
1)      Ada yang panjangnnyasatu alif atau dua harkat, yaitu mad badal, mad ‘iwadh dan mad shilah Qhosirah.
2)       Mad Far’I panjangnya satu sampai tiga alif, yaitu: Mad Wajib Muttasil, Jaiz Munfasil, Shilah Thawilah dan mad ‘aridh lisukun.
3)      Mad Far’I Panjangnya tiga alif, yaitu: Mad Lazim Mutsaqqal Kalimi, Mad Lazim Mukallaf Kalimi, Mutsaqqal Harfi, Mukaffah Harfi dan Mad Farqi.

  1. Saran
Dalam makalah ini kami membahas tentang ahkamul mad, kami berharap pembaca tidak puas dengan makalah yang kami sajikan ini dan berusaha mencari sumber lain yang berkaitan dengan ahkamul mad ini demi kesempurnaan pengetahuan dalam memahami ilmu tajwid.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

A Munir dan Sudarsono. Ilmu Tajwid dan seni baca Al-qur’an. (Jakarta: Rineka Cipta, 1994)
Mufhan. Pelajaran tajwid Praktis. (Jakarta: Sandro Jaya, 2005)
Abdullah Asy’ari. Pelajaran Tajwid (qaidah bagaimana seharusnya membaca Al-qur’an untuk pelajaran permulaan). (Surabaya: Apollo)
Ismail Tekan. Tajwid Al-Qur’anul Karim. (Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2006)


[1] Ismail Tekan. Tajwid Al-Qur’anul Karim. (Jakarta: Pustaka Alhusna Baru, 2006) hal. 95
[2] Abdullah Asy’ari. Pelajaran Tajwid (qaidah bagaimana seharusnya membaca Al-qur’an untuk pelajaran permulaan). (Surabaya: Apollo) hal. 34
[3] Mufhan. Pelajaran tajwid Praktis. (Jakarta: Sandro Jaya, 2005) hal. 43
[4] Abdullah Asy’ari. Op Cit. hal.38
[5] A Munir dan Sudarsono. Ilmu Tajwid dan seni baca Al-qur’an. (Jakarta: Rineka Cipta, 1994)  hal. 55

2 komentar: